Dejavu
"Di lembar putih ini ,
kutuangkan semua …perasaanku,
tentang diriku, cintaku pada dirimu,
…….."
Pagi ini cuaca agak beda , terasa lebih romantis.Sedikit mendung, masih ada gerimis sisa hujan semalaman, dan dingin pastinya. Hmmm lagunya Krisdayanti boleh nih buat nemenin nyetir ke kantor. Nyalain MP3, ya liriknya seperti diatas itu. Lagunya Krisdayanti yang pertama, judulnya "Buku Harian". Waktu itu KD masih culun culunnya.
Dan,…. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzz
Yup dejavu, suara KD ini mengingatkan aku ke seorang teman . Suaranya bagus banget, apalagi kalau dia lagi nyanyiin lagunya KD, hmmm tarik napas deh dalam dalam . Dari semua rekan satu angkatan, aku yakin cuma dia yang bisa menjiwai perubahan angka angka di notasi lagu. Kalau ada deretan 1, 2, 3 , 4, 5 dia akan bilang do-re-mi-fa-sol, sementara rekan lainnya justru akan mencari rata-ratanya, standar deviasinyalah, bahkan kalau perlu dianalisa trend-nya, dasar anak statistik, terlalu otak kiri.
Oh ya namanya Nina, dulu pacar pertamaku Nina juga, bukan Nina yang ini pastinya, istriku sekarang Nani, hehe … nggak ada variasi memang hidupku ini.
Suasana zama mahasiswa yang pas banget untuk lagu ini adalah pada saat tugas praktikum statistika , bagian distribusi poisson. Peserta diharuskan berdiri di pinggir jalan, membawa alat penghitung, terus mencatat mobil yang lewat, dari kiri – kanan, waktu antar kendaraan, tidak boleh dekat lampu lalu lintas (biar tidak dikira jualan koran mungkin maksudnya… ). Waktu itu kami berempat, aku, Imam, Nina sama Inggar memilih jl Margorejo, soalnya dekat dengan rumahnya Inggar jadi selesai dari lokasi bisa langsung mampir buat makan makan di rumahnya Inggar,mana ada kelompok lain yang kayak gitu. Pada saat berangkatpun sudah menyisakan cerita sendiri. Setelah selesai kuliah pagi, kita berempat langsung berangkat ke lokasi survey. Waktu itu Inggar yang punya mobil, satu satunya yang bawa mobil ke kampus. Dengan sopannya (mungkin karena sudah dididik dengan baik untuk menghargai etika) Inggar menawarkan dengan halus "Ru, Mam ada yang mau nyopir ?" Blarrrr, aku sama Imam berpandangan muka, dan dengan sopan dan halus karena malu, kami bilang terima kasih atas tawarannya, biar kami dibelakang saja deh. Yah, soalnya aku & Imam nggak bisa nyetir sama sekali. Walhasil perjalanan dari Kampus s.d lokasi, kami merah padam diledekin sama Nina yang duduk di depan sama Inggar, sementara kami berdua cuman senyum senyum, kecut.
Tugas Survey ini lumayan mbosenin, sampai kemudian Nina dengan tenangnya menyanyikan lagu KD diatas, he he langsung siang hari yang terik itu jadi adem. Kayak ada bola energi yang melindungi kami. Dari situlah suara Nina benar benar menjadi andalan untuk dinikmati. Agak sore, ketika tinggal beres beres peralatan muncul isengya lagi. Sewaktu ada 2 cewek lewat, tanpa basa basi langsung dia bersuit – suit kayak preman kampung. Begitu cewek itu menoleh, dengan santainya dia menunjuk aku & Imam. Yah 2 -0 deh hari ini sama anak satu ini….
Lain hari, kemampuan Nina menyanyikan lagu KD ditunjukkan dalam even yang lebih besar. BCS . Lokasinya di Dlundung waktu itu. Selagi semua peserta angkatan baru sedang menerima materi, angkatan kami yang saat itu menjadi OC, memisahkan diri ketempat yang agak jauh untuk menghabiskan waktu. Kebetulan ada kakak kelas lewat, Ading namanya, kalau dia terkenal dengan kemampuannya bermain gitar dan bernyanyi Iwan Fals. Setelah ading bergabung, request lagu langsung keluar dari kanan kiri, pas bagianku aku minta tolong mereka nyanyi lagunya Anang – KD yang waktu itu lagi hangat hangatnya. Wah, benar benar menghipnotis deh …
Di Dlundung juga, momen yang paling indah adalah saat suatu malam ketika semua peserta dan kakak angkatan sudah terlelap tidur, kami satu angkatan yang ikut acara itu , duduk membentuk lingkaran dengan takzim.
Saat itulah setiap peserta diperbolehkan untuk mengkritik temannya dengan terbuka, memberikan saran dan sekaligus lapang dada menerima kritikan. Awalnya memang terasa kaku, setelah aku menyediakan diriku sebagai bahan evaluasi, pelan tapi pasti semuanya bisa menikmati acara itu.
hmmmm
Saat itulah , di bawah satu obor dan keheningan alam, kami mulai merajut hati angkatan sebagai keluarga .
Saat itulah, saat awalnya kami tumbuh dewasa untuk bicara dan mendengar orang lain
Saat itulah, dimana aku menyadari arti sahabat sebenarnya, di saat kita dekat dengan mereka dan semua gundah beban kita hilang dengan sendirinya….
Saat itulah, saat yang kurindukan saat ini ….
I miss you all ……
Makassar, 31 Maret 2008 (Daru Puji Utomo)


